WASIAT RASULULLAH:
"Sepeninggalan aku telah wafat kelak, akan muncul sebuah negeri di bawah angin, SAMUDERA namanya. Apabila terdengar kamu nama negeri itu, maka suruhlah sebuah bahtera untuk membawa perkakas dan alat kerajaan ke negeri itu serta ajarkan kepada mereka dua kalimah syahadah. Kerana dalam negeri itu kelak, ramai dari kalangan mereka yang akan menjadi wakil-wakil Allah. Tetapi, dalam pemergian kamu ke negeri itu, kamu hendaklah singgah mengambil seorang fakir di negeri Menggiri, bawalah fakir itu bersama-sama"
-sulalatus salatin-
-sulalatus salatin-
Showing posts with label BAIT-BAIT PUISI / LIRIK-LIRIK LAGU KU. Show all posts
Showing posts with label BAIT-BAIT PUISI / LIRIK-LIRIK LAGU KU. Show all posts
Sa-mersik kencana paluan rebana,
Adat bertandang hulu muara,
Di ufuk Timor Malayu namanya,
Sa-indah rupa Sa-cantek nama,
Bicara halus berlapik kata,
Asal berasal dari yang mulia,
Satu tuan tiga bersama,
Itulah tiga Malayu asalnya,
Enam saudara Malayu semuanya,
Siapakah gerangannya Malayu....?
Pemilik takhta,
Penguasa Samudera,
Empunya Nusantara,
Penakluk terkemuka,
Siapa sangka...
Lantaran Malayu itu,
Bisa goncangkan Dunia,
Bisa goyahkan penjajah durjana,
Bisa lenyapkan ‘makhluk pemusnah’,
Kerna....
Malayu itu pada jiwanya,
Bukan hanya pada katanya,
“ Takkan Malayu Hilang Di Dunia”,
Bak bidalan orang lama,
Itulah dia Tuah namanya,
“Takkan Malayu Hilang Di Dunia”
Bertuan..Berdaulat..Bermaruah,
Malayu tulen tidak mudah,
Tidah bergantung darjah dan nama,
Teguh Malayu pada satunya,
Kerna....
Malayu yakin pada Pencipta..
-JAWI-
Adat bertandang hulu muara,
Di ufuk Timor Malayu namanya,
Sa-indah rupa Sa-cantek nama,
Bicara halus berlapik kata,
Asal berasal dari yang mulia,
Satu tuan tiga bersama,
Itulah tiga Malayu asalnya,
Enam saudara Malayu semuanya,
Siapakah gerangannya Malayu....?
Pemilik takhta,
Penguasa Samudera,
Empunya Nusantara,
Penakluk terkemuka,
Siapa sangka...
Lantaran Malayu itu,
Bisa goncangkan Dunia,
Bisa goyahkan penjajah durjana,
Bisa lenyapkan ‘makhluk pemusnah’,
Kerna....
Malayu itu pada jiwanya,
Bukan hanya pada katanya,
“ Takkan Malayu Hilang Di Dunia”,
Bak bidalan orang lama,
Itulah dia Tuah namanya,
“Takkan Malayu Hilang Di Dunia”
Bertuan..Berdaulat..Bermaruah,
Malayu tulen tidak mudah,
Tidah bergantung darjah dan nama,
Teguh Malayu pada satunya,
Kerna....
Malayu yakin pada Pencipta..
-JAWI-
Pasak yang satu beriringan jitu,
Berdarah kembali bersama sabda yang dulu,
Kias menyahut suara sang pencipta pada samudera membiru,
Tegak sirah bersama daulat tanpa membatu.....
Satu letak dengan tempatnya,
Berarak bersama-sama awan tidak terhitung jumlahnya,
Begitulah potret jiwa-jiwa mereka,
Yang telah dibelinya ,
Saat bermula tiada penghujungnya,
Rentasilah bidai-bidai yang pasti kan di dada,
Lantaran racun terpaku sendi dalam hati,
Kerna ia bisa menggoyah jiwa ,
Biar hati bersama mati,
Biar rosak bersama binasa,
Namun penghujung tiada henti,
Bagai sirih pulang ke gagang,
Jatuh ke riba laksana bulan,
Meniti titi berputih tulang,
Sampai noktah berderai badan,
Yang pipih datang melayang,
Yang bergolek dengan bulatan,
Kan tetap tersusun laluan pulang,
Pada yang arif melihat jawaban,
Begitulah sabda junjungan,
Kalam berkias dengan jawaban,
Akal yang waras tiada haluan,
Kerna pulut binasa santan,
Dari mulut binasa badan,
Satu tujuan satu jawaban,
Tepuk dada biasan iman,
Kerna sabda penimbang keputusan.
-JAWI-
Berdarah kembali bersama sabda yang dulu,
Kias menyahut suara sang pencipta pada samudera membiru,
Tegak sirah bersama daulat tanpa membatu.....
Satu letak dengan tempatnya,
Berarak bersama-sama awan tidak terhitung jumlahnya,
Begitulah potret jiwa-jiwa mereka,
Yang telah dibelinya ,
Saat bermula tiada penghujungnya,
Rentasilah bidai-bidai yang pasti kan di dada,
Lantaran racun terpaku sendi dalam hati,
Kerna ia bisa menggoyah jiwa ,
Biar hati bersama mati,
Biar rosak bersama binasa,
Namun penghujung tiada henti,
Bagai sirih pulang ke gagang,
Jatuh ke riba laksana bulan,
Meniti titi berputih tulang,
Sampai noktah berderai badan,
Yang pipih datang melayang,
Yang bergolek dengan bulatan,
Kan tetap tersusun laluan pulang,
Pada yang arif melihat jawaban,
Begitulah sabda junjungan,
Kalam berkias dengan jawaban,
Akal yang waras tiada haluan,
Kerna pulut binasa santan,
Dari mulut binasa badan,
Satu tujuan satu jawaban,
Tepuk dada biasan iman,
Kerna sabda penimbang keputusan.
-JAWI-
Dalam cinta adanya cinta,
Dalam duka bersilih duka,
Cinta yang duka berganti duka,
Duka pecinta berkembang cinta,
Syuhada….
Kemana menghilangnya diri ,
Dalam kesamaran cinta tulus suci,
Perginya cintaku dalam menyingkap sutrah nurani,
Bagai pernah ku rasai sebelum ini,
Dalam diri yang seni,
Apakah hati ku ini telah kembali,
Mencari kasih-mu dalam hakikat abadi,
Siapakah gerangan diri,
Dalam meniti kemaruk cinta yang azali,
Persis sebuah penitian musafir mimpi,
Yang tiada sedar dan yang sedar bersalin mimpi,
Menagih diri dalam diri yang tersembunyi,
Mengaku bertali,
Tapi…
Tiada ikatan seikhlas hati,
Apakah benarnya cinta berbalas erti,
Syuhada….
Tiada bandingan pada dirimu,
Sehingga menjatuhkan hujan air mata ku,
Berlinangan air mata membasahi pipi kerna mendamba kasih-mu,
Sekerdipan mata jua sehela nafasku,
Bergantian pada setiapnya itulah dirimu,
Begitu hampir denganku,
Aku erti diri ku,
Yang tersembunyi itulah bukti kasihmu,
Tetap bersamaku.
-JAWI-
Dalam duka bersilih duka,
Cinta yang duka berganti duka,
Duka pecinta berkembang cinta,
Syuhada….
Kemana menghilangnya diri ,
Dalam kesamaran cinta tulus suci,
Perginya cintaku dalam menyingkap sutrah nurani,
Bagai pernah ku rasai sebelum ini,
Dalam diri yang seni,
Apakah hati ku ini telah kembali,
Mencari kasih-mu dalam hakikat abadi,
Siapakah gerangan diri,
Dalam meniti kemaruk cinta yang azali,
Persis sebuah penitian musafir mimpi,
Yang tiada sedar dan yang sedar bersalin mimpi,
Menagih diri dalam diri yang tersembunyi,
Mengaku bertali,
Tapi…
Tiada ikatan seikhlas hati,
Apakah benarnya cinta berbalas erti,
Syuhada….
Tiada bandingan pada dirimu,
Sehingga menjatuhkan hujan air mata ku,
Berlinangan air mata membasahi pipi kerna mendamba kasih-mu,
Sekerdipan mata jua sehela nafasku,
Bergantian pada setiapnya itulah dirimu,
Begitu hampir denganku,
Aku erti diri ku,
Yang tersembunyi itulah bukti kasihmu,
Tetap bersamaku.
-JAWI-
